AYAH

Aku sedang berjalan memasuki hutan gelap. Mengenakan piyama tanpa beralas kaki. Beberapa kali kakiku menginjak duri. Sakit sekali rasanya tapi aku tak bisa berhenti berjalan. Terus melangkah. Terus. Sampai ditelan kegelapan.

Seseorang memanggilku. Suaranya begitu familier. Tapi aku mati rasa. Aku belum bisa keluar dari dalam hutan. Aku masih terus melangkah dengan kaki berdarah. Suara itu terus memanggil, semakin lama semakin dekat di telingaku. Lalu tangan mungilnya mengguncang tubuhku.

“Ayah.”

Sontak aku tersadar dari mimpi burukku. Aku sudah kembali ke kamarku, tidak lagi di hutan gelap. Hanya saja, ada seorang anak perempuan dengan mata merah menyala berdiri di sudut kamarku.

*) tantangan FF 100 kata #HororisCausa dari @Melctra dan @Irfanaulia

Iklan

#MyCupofStory – KALOSI

Ayah masih hidup.

Iya, Ayah masih hidup. Kalau tidak, siapa yang mengirimkanku biji kopi Toraja Kalosi tepat di hari ulang tahunku.

Hanya Ayah yang melakukan itu.

***

Sebuah paket tergeletak di atas meja di ruang kamarku. Kotor dan kusut. Seperti baru saja terjatuh di tanah berlumpur dan dibersihkan dengan terburu-buru. Namun aku masih bisa membaca namaku dengan jelas di antara bercak lumpur yang mengering.

Aku bertanya-tanya, bagaimana bisa paket kotor ini masuk ke dalam kamarku? Masuk ke dalam rumah yang terkunci rapat saat aku sedang pergi kerja?

Aku mengguncang paket yang berupa amplop cokelat besar. Ringan dan tipis. Seolah isinya hanya udara. Tapi tanganku merasakan sesuatu yang mirip kelereng, tidak, serupa biji-bijian saat meraba permukaan paket.

Ujung paket kurobek dengan paksa sehingga robekannya tak teratur. Sebuah plastik yang berperekat meluncur keluar dari dalam paket. Mengingatkanku akan plastik sambal superpedas di tukang pecel lele langgananku di ujung gang. Aku terperenyak. Seluruh tulangku seolah berubah menjadi agar-agar. Di dalam plastik berperekat ada sebuah biji kopi.

Biji kopi Toraja Kalosi.

***

“Selamat ulang tahun, Sayang. Ayah mengirimkanmu bungkusan kopi terbaik hasil gilingan Ayah tadi pagi dan sebiji kopi Toraja Kalosi.” Suara Ayah terdengar ceria. Dia pasti baru saja menemukan citarasa kopi yang baru.

“Kapan Ayah kembali?”

Sudah lima hari Ayah berada di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Dia mendapat undangan dari seorang teman di sana untuk membantunya membuka kedai kopi. Ayahku seorang coffee roaster yang handal.

“Mungkin tiga hari lagi. Ayah masih harus pergi ke salah satu perkebunan kopi milik kenalan Ayah di sekitar Gunung Latimojong.”

Keesokan harinya aku menerima paket ulang tahun sesuai kata Ayah, bersama dengan kabar kalau kendaraan yang ditumpangi Ayah terjatuh di jurang. Dia dan sang sopir tak ditemukan jasadnya.

***

“Ayahku masih hidup,” kataku pada Henri saat jam makan siang. Henri adalah sahabat sekaligus supervisorku di Giardano. Dia menjadi satu-satunya temanku selama setahun ini.

“Hah?”

“Ayahku masih hidup,” ulangku.

Henri memberiku pandangan ‘kau sudah gila’.

“Aku menemukan paket berisi biji kopi kemarin saat ulang tahunku,” jelasku. Tak peduli jika Henri akan semakin berpikir kalau aku beneran gila.

“Siapa saja bisa mengirimkanmu biji kopi,” bisik Henri sambil menyeruput espresso-nya dengan hati-hati. Seolah obrolan kami adalah tentang rahasia dunia sehingga dia takut orang lain bisa mendengarnya.

“Kamu tidak akan mengirimkanku biji kopi. Orang lain tidak akan mengirimkanku biji kopi. Hanya Ayahku. Hanya dia yang akan melakukannya.”

“Losi, kita sudah sering membahas ini. Ayahmu sudah meninggal setahun yang lalu. Berhenti berpikir kalau dia masih hilang dan akan kembali secara tiba-tiba.”

“Tadi pagi aku menemukan paket lagi. Paket yang sama dengan yang kuterima kemarin. Isinya juga biji kopi. Itu pasti dari Ayahku. Dia mengirimkannya dari suatu tempat entah di mana. Aku bisa merasakannya.”

“Orang mati tidak akan bisa mengirimkanmu paket. Tidak ada tukang pos di akhirat.” Suara Henri meninggi. Aku hanya menatapnya diam.

“Losi…” Henri tidak lagi menatapku seolah aku gila, tapi lebih kepada rasa kasihan. “Sebaiknya kita kembali. Lima menit lagi jam makan siang kita selesai. Dan bersihkan pakaianmu, ada bubuk kopi menempel di rok.” Henri berdiri dan membayar ke kasir. Membiarkanku duduk terdiam sendiri.

***

“Kenapa Ayah sangat menyukai kopi?”

“Karena kopi adalah hidup Ayah.”

“Itu saja?”

“Itu saja.”

“Lalu kenapa Ayah menamaiku Kalosi?”

“Saat lahir kamu membawa aroma bumi. Sama seperti biji kopi Toraja Kalosi. Tapi kamu berbeda. Kamu unik. Kamu mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.”

“Apa itu?”

“Sesuatu yang nantinya bisa menolong Ayah.”

Aku tersentak dari tidurku. Bulir keringat mengucur sebesar biji jagung. Terakhir aku bermimpi buruk saat Ayah dinyatakan hilang. Kali ini ada Ayah di dalam mimpiku. Dia mengatakan sesuatu yang aneh.

Tuk.

Sebutir biji kopi terjatuh dari langit-langit kamar.

Tuk.

Butiran lainnya jatuh.

Tuk.

Butiran ketiga. Semua dalam interval sedetik.

Tuk. Tuk. Tuk.

Tiga butiran berikutnya hanya berupa setengah biji kopi.

Tuk. Tuk. Tuk.

Lalu tiga butiran lainnya menyusul. Butiran biji kopi utuh seperti yang pertama.

Tidak ada apa-apa di langit-langit kamar. Hanya langit-langit kamar yang normal. Seolah biji-biji kopi itu jatuh begitu saja. Apa maksudnya ini? Aku mengurutkan biji-biji kopi itu sesuai garis waktunya. Tiga biji kopi yang utuh, tiga biji kopi setengah bagian saja, dan tiga biji kopi lainnya yang juga utuh.

Keningku mengerut. Rasanya seperti membaca sebuah pola. Apa ya artinya?

Aku meraih ponselku. Mengetikkan pola yang mirip dengan pola biji kopi yang kutemukan di kolom pencarian. Dadaku berdegup kencang saat melihat hasilnya.

•••—•••

SOS.

***

“Ayahku masih hidup,” kataku pada Henri. Kami bersiap untuk pulang.

Henri mengacuhkanku, sibuk dengan memasukkan laporan ke dalam tasnya. Hari ini toko kami sangat ramai karena menjelang akhir tahun begini orang-orang berbondong-bondong berbelanja. Apalagi Giardano menawarkan potongan harga cukup besar.

“Semalam dia mengirimkanku SOS. Dia butuh bantuan, Hen. Dia ada di suatu tempat dan ingin aku menolongnya. Dan kamu tahu apa yang luar biasa? Aku sudah tahu bagaimana cara untuk menolongnya.”

Henri yang tadinya tak peduli akhirnya terpengaruh juga.

“Losi… lama-lama aku akan berpikir kalau kamu sudah gila dan butuh bantuan. Berhenti melakukan ini semua kepada dirimu sendiri. Relakan Ayahmu, Losi. Biarkan dia tenang di sana.”

“Aku tidak gila, Hen. Ayahku benar-benar masih hidup. Dia ada di suatu tempat yang hanya aku yang bisa menolongnya. Kamu harus percaya padaku.”

“Aku ingin, Losi. Aku ingin percaya padamu. Tapi kemarin aku datang ke rumahmu.”

“Ka-kamu ke rumahku?” Aku tak bisa menyembunyikan rasa terkejut. Selama ini aku melarang siapa saja datang ke rumah. Bahkan Henri.

“Ya. Kamu sedang tidak ada. Pintu rumahmu tidak terkunci sehingga aku bisa masuk ke dalamnya. Kamu tahu apa yang kulihat? Itu bukan rumah Losi. Tidak layak tinggal. Ada begitu banyak bubuk kopi di mana-mana.”

“Ka-kamu seharusnya tidak boleh masuk,” kataku gelagapan. Dengan perasaan tak keruan aku segera berlari pergi.

***

“Bagaimana keadaannya, Dok?” Suara Henri berisi kekhawatiran. Tadi saat Kalosi berlari keluar mal, sebuah motor menabraknya.

“Dia hanya mengalami memar dan luka lecet saja. Selebihnya tidak apa-apa. Hanya saja kami menemukan kadar kafein yang sangat tinggi di dalam darahnya. Itu cukup berbahaya. Dia bisa menderita gangguan,” jelas sang dokter.

“Seperti halusinasi? Dia belakangan ini sering berkata hal-hal yang tidak masuk akal. Dia juga menganggap kalau Ayahnya masih hidup. Padahal Ayahnya sudah meninggal setahun yang lalu.”

“Itu bisa saja terjadi. Jika teman Anda sudah sadar akan segera dipindahkan untuk diperiksa lebih lanjut.”

“Terima kasih, Dok.”

“Sekarang mari kita lihat teman Anda.”

Seorang suster terduduk di lantai di depan sebuah tempat tidur pasien di UGD. Henri dan sang dokter berlari mendekati.

“Ada apa, Suster? Apa yang terjadi?”

“Pa… pa… pasien perempuan itu meng… meng… menghilang, Dok. Padahal aku hanya memungut sebuah biji kopi yang terjatuh di lantai. Tahu-tahu dia sudah menghilang,” kata sang suster gemetaran.

Di atas tempat tidur milik pasien bernama Kalosi hanya tersisa bubuk kopi dan sebutir biji kopi.

mycupofstory-poster-759x500

*) Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupofStory diselenggarakan oleh GiordanoID dan Nulisbuku.com

The Shining Ones

Dalam enam minggu, ditemukan enam orang meninggal di Riverdise.

Korban pertama adalah seorang dokter perempuan, ditemukan tewas di bilik kamar mandi Rumah Sakit St. Eve. Wajahnya melepuh akibat cairan asam. Korban kedua adalah seorang anggota dewan, ditemukan dengan luka tembak di kepala pada saat resepsi pernikahan anak perempuannya di Gedung Zarachiel. Yang ketiga adalah seorang pedagang kembang di pasar. Ia ditemukan di dalam rumahnya sendiri di Raquel Street No. 21 yang luluh lantak oleh api. Seorang pengacara yang sedang menginap di Hotel Uriel dalam rangka bulan madu menjadi korban berikutnya. Istrinya yang menemukannya tewas di kamar mereka dengan lidah terpotong. Korban kelima ditemukan di taman kota. Wajah perempuan itu rusak dan di dadanya tergores luka materai. Belakangan diketahui, perempuan itu seorang PSK. Yang menjadi korban keenam adalah seorang remaja. Ia adalah anak laki-laki dari seorang pengusaha terkenal. Anak laki-laki itu ditemukan mati mengambang di Sungai Gabriel. Ia dicekik sebelum akhirnya dibuang ke sungai tersebut.

Riverdise adalah sebuah kota yang terkenal aman. Tingkat kejahatannya sangat kecil. Biasanya warga meninggal karena sakit, bukan karena dibunuh. Pihak kepolisian harus dipaksa bekerja semaksimal mungkin untuk mencari tahu penyebab kematian dan juga motif pembunuh. Namun mereka mengalami jalan buntu. Tidak ada jejak pelaku di setiap lokasi kejadian, bahkan tidak ada motif kuat siapa kira-kira yang mampu membunuh orang-orang ini. Apakah dilakukan oleh satu orang atau beberapa orang? 

“Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kurang dari dua bulan, sudah enam warga kita yang meninggal.” Wajah Kepala Kepolisian Riverdise, Mr. Robertson, merah karena marah. Semua bawahannya hanya terdiam.

Mr. Robertson menarik napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa menyalahkan anak buahnya. Mereka sudah bekerja keras. Namun nir hasil.

“Inspektur Boris.”

“Ya, Pak?”

“Cari laki-laki sok tahu itu dan mintalah dia untuk membantu penyelidikan kita. Paksa dia bagaimanapun caranya.”

“Baik, Pak.”

Di sebuah bar kecil di pinggir kota, seorang laki-laki dengan rambut berantakan duduk menikmati gelas wiski ketiganya. Tatapannya terpaku pada lampu neon yang membentuk nama bar. Dua buah lampu neon berkelap-kelip sebelum akhirnya padam. Mengubah nama bar menjadi Jim’s Butt. Pantat Jim. Padahal sebelumnya adalah Jim’s Butter.  

“Kau masih pemabuk yang doyan minum wiski murahan rupanya,” kata Inspektur Boris yang sudah duduk di meja bar di samping laki-laki itu.

“Dan kau masih polisi menyebalkan yang akan datang ke sini hanya karena butuh sesuatu. Iya, kan?” Laki-laki itu meneguk habis minumannya dan menyodorkan kembali gelasnya ke bartender.

“Berikan dia minuman yang sedikit mahal dari itu,” kata Inspektur Boris menyela. “Dan satu untukku juga.”

“Kau sungguh murah hati sekali. Katakan apa maumu?”

“Kepala Kepolisian ingin kau membantu penyelidikan kami, Beltsazar.”

“Pasti kasus yang cukup berat sampai si tua bangka itu menyuruhmu mencariku.” Beltsazar meraih gelas minumnya yang sudah kembali penuh.

“Memangnya kau tidak mendengar tentang beberapa pembunuhan yang terjadi belakangan ini?” tanya Inspektur Boris heran.

Beltsazar hanya diam menikmati minumannya.

Inspektur Boris menggelengkan kepala. “Seharusnya aku tahu, kau juga pasti sudah menyelidiki semua kasus ini sendiri. Tipikal.”

“Traktir aku segelas lagi dan anggap saja aku mau membantu kalian.”

Inspektur Boris mengangkat tangannya memesan kembali minuman yang sama kepada bartender untuk Beltsazar.

Beltsazar meminta Inspektur Boris menemaninya pergi ke beberapa tempat hari itu juga. Mobil mereka berhenti di TKP pertama lalu ke TKP keenam yang lokasinya berdekatan. Beltsazar tak banyak melakukan apa-apa, ia hanya berkeliling TKP dengan mata seawas elang botak. TKP lainnya didatangi keesokan harinya.  

“Kami menemukan beberapa petunjuk yang mungkin berkaitan. Ini tak pernah kami sebarkan ke media karena takut akan memengaruhi warga jika mereka tahu ada pembunuh berantai yang berkeliaran di kota ini.” Inspektur Boris mengeluarkan beberapa lembar foto dari sakunya. Ia memperlihatkan sebuah pola yang sama yang muncul di setiap TKP. “Bukankah itu terlihat seperti sebuah angka bagimu?”

Beltsazar mengamati sekilas foto-foto tersebut. Di dahi masing-masing korban ditemukan tulisan yang menyerupai 77’,7.

“Pihak kepolisian menyebutnya Pembunuh 777.”

“Kalau aku lebih memilih menyebutnya Peniru Malaikat yang Buruk.” Beltsazar menyalakan rokoknya yang tinggal sebatang yang baru saja diambilnya dari dalam saku.

“Peniru Malaikat?”

“Menurutmu, mengapa Lucifer memilih menjadi iblis?” Beltsazar berjalan meninggalkan TKP kelima.

“Apa hubungan Lucifer dengan kasus ini?” Inspektur Boris berusaha menyamai langkah Beltsazar.

“Jawab saja dulu.”

“Entahlah… karena dia ingin menjadi Tuhan mungkin?”

“Karena dia ingin diperhatikan. Sama seperti pelaku yang membunuh enam korbannya ini. Dia yang menyebut dirinya iblis. Tanda di dahi para korban itu bukan angka 7 melainkan bahasa Ibrani לילֵהֵ yang artinya Helel. Dia melakukan semua pembunuhan ini demi melengkapi semuanya menjadi satu bagian. Maksudku, tujuh.”

“Tujuh?”

“Akan ada tujuh pembunuhan. Tidakkah kau bisa menebak polanya?”

“Kalau aku sudah bisa menebak pola pelaku, aku tak akan bersusah payah meminta bantuanmu,” sungut Inspektur Boris.

“Baiklah,” kata Beltsazar sambil menarik napas panjang. “Pembunuhan pertama terjadi di Rumah Sakit St. Eve, yang kedua di Gedung Zarachiel, yang ketiga di jalan Raquel, keempat di Hotel Uriel, kelima di Taman Raphael, sedangkan korban keenam di Sungai Gabriel. Apa nama-nama lokasinya terdengar familier?”

“Ti-tidak.” Inspektur Boris menggeleng bingung.

“Itu semua adalah nama para malaikat. The Archangels.”

“The Archangels? Tapi Eve kan bukan malaikat.”

“Benar. Tapi malaikat yang digambarkan dekat dengan Eve adalah Samael. Samael diketahui sebagai suami dari Lilith, adik Eve. Samael dianggap satu dari tujuh malaikat utama walau pada akhirnya ia ikut membangkang bersama Lucifer.”

“Jadi pelaku terobsesi dengan malaikat?” tanya Inspektur Boris yang kini sudah membuka pintu mobilnya.

“Selain membunuh berdasarkan nama-nama malaikat, pelaku juga membunuh berdasarkan tujuh sakramen. Samael adalah sakramen urapan orang sakit, korban pertama adalah dokter yang dibunuh di rumah sakit dengan cairan asam. Zarachiel adalah sakramen perkawinan, korban kedua dibunuh saat berada di pesta pernikahan anaknya. Ia bahkan memegang buku doa karena Zarachiel dikenal sebagai pembawa doa. Korban ketiga ditemukan di Jalan Raquel. Korban ditemukan tewas terbakar karena Raquel adalah malaikat yang menghukum dengan api. Uriel adalah sakramen pengakuan dosa. Korban ditemukan tewas dengan lidah terpotong. Lalu korban kelima adalah seorang PSK yang ditemukan dengan wajah dan dada yang dimateraikan. Raphael adalah sakramen penabihsan. Korban keenam ditemukan tenggelam di sungai. Gabriel adalah sakramen baptisan.”

“Katamu akan ada tujuh korban.”

“Ya. Dan mungkin akan terjadi hari ini juga.”

“Hari ini?”

“Bukankah semua korban selisih jaraknya adalah enam hari. Hari ini adalah hari ketujuh sejak korban terakhir ditemukan.”

“Kau benar. Ini adalah harinya.” Inspektur Boris menepuk dahinya. “Sudah ada enam malaikat, tersisa satu malaikat lagi. Malaikat utama dari The Archangels adalah Michael, bukan?” Beltsazar mengiyakan.

“Jika pelaku membunuh sesuai lokasi yang memakai nama malaikat, maka yang terakhir ini akan ada di Gereja St. Michael. Benar kan? Aku harus segera melaporkan ini kepada Mr. Robertson.” Inspektur Boris segera melarikan mobilnya di jalanan.

“Ngomong-ngomong, sakramen apa yang akan dia gunakan?” tanya Inspektur Boris lagi.

“Perjamuan Ekaristi,” jawab Beltsazar dengan wajah lempengnya. Namun jika diperhatikan dengan saksama matanya berisi ketakutan.   

“Perjamuan? Jangan-jangan…”

“Bom!” kata Beltsazar menjawab dugaan Inspektur Boris.

Tim penjinak bom dan pihak kepolisian Riverdise tiba di Gereja St. Michael saat sedang ada ibadah umum. Orang-orang yang ada di dalam dan sekitarnya diminta menjauhi area gereja sesuai dengan parameter yang sudah ditentukan. Sebuah bom aktif ditemukan di bawah mimbar. Tim penjinak bom berhasil mengamankannya. Kepolisian Riverdise mendapat pujian atas keberhasilan mencegah terjadinya pembunuhan massal. Nama Beltsazar tak disebut karena laki-laki itu melarang Inspektur Boris mengatakan apa-apa.

Pukul empat dini hari, Beltsazar terbangun dengan mendapati telepon genggamnya menerima email dari pengirim yang tak dikenal. Ia tercenung membaca isi email.

Di sebuah bukit yang jaraknya lima kilometer dari pusat kota. Saat itu matahari baru saja terbit. Beltsazar tiba di puncaknya dengan napas terengah.   

“Halo, Beltsazar,” sapa seorang laki-laki yang berdiri di dekat sebuah patung malaikat tanpa sayap. Ia mengenakan topeng hitam yang hanya memperlihatkan area mata yang sekelam malam.

“Kau yang mengirimiku email. Siapa kau?”

“Kupikir kau tak perlu bertanya, karena aku yakin kau pasti sudah bisa menebak siapa aku.” Suara laki-laki bertopeng itu serak dan mencekam.

“Kau yang membunuh orang-orang tak berdosa itu. Yang mengatasnamakan para malaikat demi memenuhi obsesi sakit jiwamu.”

“Ow… Beltsazar… Beltsazar. Aku sungguh tersinggung kau mengataiku sakit jiwa. Aku ini adalah seorang maestro. Aku adalah pencipta teror yang akan dikenal dunia karena ketakutan yang kudatangkan atas manusia. Hanya orang jenius yang mampu melakukan itu semua bukan orang sakit jiwa.”

“Berhentilah terobsesi menjadi Lucifer. Kau bukan siapa-siapa yang hanya akan membusuk di penjara demi dosa-dosamu itu.”

“Ha ha ha. Aku tak pernah terobsesi. Karena aku adalah Helel sang pembawa teror. Dan kau tahu, tindakanmu menyelamatkan orang-orang itu adalah tindakan bodoh. Karena kesalahanmu itu, aku akan memberi teror yang lebih besar lagi untuk kota ini.”

“Aku adalah orang yang akan menghentikan segala kegilaanmu itu.”

“Kau tak akan pernah bisa menghentikanku. Sama seperti yang sudah aku lakukan sebelumnya. Ucapkan selamat tinggal, Beltsazar. Kita akan berjumpa lagi. Secepatnya.” Laki-laki bertopeng itu tiba-tiba melompat dari atas bukit. Beltsazar baru akan mengejarnya ketika sebuah ledakan menghancurkan patung malaikat tanpa sayap menjadi serpihan debu.

Beltsazar bangun dengan tertatih. Daya ledak bom di patung membuatnya terhempas cukup jauh. Laki-laki bertopeng itu sudah tak kelihatan lagi. Tapi Beltsazar yakin, mereka akan bertemu kembali. Dan saat itu terjadi, Beltsazar sendiri yang akan menangkap laki-laki yang menyebut dirinya Helel. The Shining Ones. 

Senandung Catleya

Perempuan itu sedang memandang ke luar jendela saat aku masuk ke dalam ruangannya. Rambut hitam arangnya terkepang menyamping, memperlihatkan rahangnya yang tinggi. Ia terlihat berbeda dari hari kemarin–dengan rambut kusut masai.  Suster Maryam pasti yang mendandani usai memandikannya tadi pagi.

“Halo Catleya. Apa kabarmu hari ini?” sapaku.

Perempuan itu tak mengalihkan pandangnya. Tetap setia menatap jendela dalam diam. Entah apa yang dilihatnya. Hanya ada pohon ketapang dengan sebagian daun yang kekuningan di luar sana.

“Namaku Allan. Aku dokter yang akan menanganimu selama kau dirawat di sini,” kataku sambil memindahkan sebuah kursi lipat tepat di hadapannya. Namun ia tetap tak mengubah sudut matanya.

Perempuan ini sangat cantik. Matanya sewarna madu. Kulitnya serupa tembaga yang ditempa matahari. Kencang dan sehat. Pantas saja secara fisik ia tampak begitu bugar. Kasak kusuk yang beredar, perempuan ini adalah seorang atlit lari. Ia beberapa kali mendapat medali emas di lomba lari nasional dan internasional.

Keberadaannya di sini akibat kasus pembunuhan. Laki-laki yang diketahui sebagai pacarnya ditemukan tewas mengenaskan di rumah kontrakannya. Perempuan ini juga ada di sana dengan tubuh berlumur darah. Katanya saat polisi masuk ke kediaman itu, perempuan ini sedang bersenandung sebuah lagu yang dinyanyikan secara berulang-ulang. Semula ia dianggap saksi atas kejadian keji itu. Tapi bukti berbalik mengarahkannya menjadi tersangka. Sayangnya setelah kejadian itu, psikiater mendiagnosisnya mengalami gangguan kejiwaan. Hakim memutuskan ia dikirim ke rumah sakit ini.

“Hari ini kita tidak akan melakukan terapi. Aku hanya akan bercerita tentang diriku padamu. Katanya tak kenal maka tak sayang, bukan?” kataku sambil tertawa. Perempuan itu tetap geming.

Aku mulai bercerita tentang kebiasaan-kebiasaanku. Tentang kegiatan yang kulakukan selama di rumah sakit. Sampai pada hobi membaca dan kegemaranku mengoleksi action figure. Tahu-tahu sesi dua jam dengannya telah usai.

“Aku pamit dulu. Sampai jumpa besok, Catleya.”

Baru saja aku beranjak, terdengar suara dari mulutnya. Ia sedang mengguman. Tidak. Ia sedang bersenandung. Sebuah lagu. Entah lagu apa. Yang lebih mengejutkan, ia kini menatapku sambil tersenyum. Aku baru akan mendekatinya lagi ketika ia sudah membalikkan tubuhnya seperti semula. Kembali menatap jendela. Senandung di mulutnya ikut berhenti. Ia kembali larut dalam hening.

***

Sudah tiga bulan aku menangani perempuan itu namun tidak ada perkembangan berarti. Ia tak pernah bereaksi setiap kali aku datang ke ruangannya. Ia tetap setiap menatap keluar jendela. Tanpa berbicara. Pun menatapku. Aku tak tahu apa yang harus kutulis dalam jurnalku.

Apakah hanya sebuah kebetulan hari itu, saat ia menatap dan tersenyum padaku?

***

Memasuki bulan kelima aku sedikit frustrasi. Baru kali ini aku menghadapi pasien yang diam seribu bahasa tanpa adanya reaksi. Sempat tersirat untuk berhenti menanganinya. Tapi pikiranku berubah saat melihatnya di taman. Duduk seorang diri di bangku besi bercat putih. Ia sedang memperhatikan teman-temannya yang sedang berkegiatan di taman. Dua kali dalam seminggu, para pasien memang dibiarkan berinteraksi di luar ruangan. Khusus pasien yang dinilai takkan berbuat macam-macam saja.

“Halo dokter,” sapanya saat aku tinggal beberapa langkah lagi darinya. Tentu saja itu membuatku terkejut. Benar-benar terkejut.

“Halo Catleya,” balasku. “Boleh aku duduk di sampingmu?”

“Tentu saja.” Tangannya menepuk-nepuk bangku seolah membersihkan debu tak kasat mata.

“Kau suka berada di luar?”

Perempuan itu mengangguk.

Lalu entah bagaimana kami mulai bercerita. Tidak, ia yang lebih banyak bercerita. Bercerita tentang lomba-lomba yang pernah ia ikuti. Tentang kota-kota dan negara yang pernah ia kunjungi. Tentang banyak hal. Ia terlihat begitu hidup dan bahagia. Ia bahkan mulai bersenandung. Senandung yang sama dengan yang kudengar waktu itu.

🎶Dan bernyanyilah

Senandungkan isi suara hati

Bila kau terluka

Dengarkan alunan lagu

Yang mampu menyembuhkan lara hati

Warnai hidupmu kembali

Menarilah…

Bernyanyilah…🎶

“Itu lagu milik siapa?”

“Sebuah band. Mereka teman-teman pacarku,” katanya sambil tersenyum. “Lagu ini khusus untukku. Ditulis sendiri oleh pacarku.”

Mendengar ia berbicara tentang masa lalunya, aku mencoba mengorek lebih. Jarang sekali aku mendapat kesempatan seperti ini dengannya. Tapi mendadak ia terdiam ketika aku menyebutkan nama pacarnya. Ia kembali menutup diri. Sikapnya berubah seperti sedia kala. Menjadi asing bagi sekitarnya. Bagiku.

***

“Halo Catleya, lihat apa yang kubawakan untukmu.” Aku memperlihatkan sebuah iPod saat datang ke ruangannya keesokan hari. Ia adalah Catleya yang sama seperti semula. Memandangi jendela dalam diam. Aku menekan tombol play. Lantunan lagu yang kemarin ia nyanyikan berdengung. Aku sengaja mencarinya di internet sepulang kerja. Itu adalah lagu dari band bernama Musikimia.

Catleya tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Wajahnya berubah seputih kertas.

“Tidak… tidak…” Ia menutup kedua telinganya. Tubuhnya mulai berguncang-guncang. “Semua salahnya. Salahnya. Salahnya. Katanya lagu itu untukku. Katanya lagu itu untukku. Bukan perempuan itu…” teriaknya padaku.

“Dan bernyanyilah… dan bernyanyilah… dan bernyanyilah…” ia terus mengulangi kata-kata itu sambil terus mengguncang tubuhnya lebih keras lagi. Aku terpaksa mematikan musik di iPod. Kupikir ia akan terbuka ketika mendengar lagu yang ia nyanyikan kemarin. Nyatanya aku salah. Ia malah menjadi lebih trauma. Aku bersiap memberikan suntikan penenang ketika ia melompat menerjangku. Tubuhnya tepat di atasku. Ia berteriak histeris.

“Semua salahnya. Salahnya. Salahnya.” Tangannya sudah menjambak rambutku lalu membenturkan kepalaku ke lantai dengan keras.

Kemudian semua menjadi gelap.

***

Silau. Aku mengerjap beberapa kali agar terbiasa dengan cahaya lampu yang benderang di kamar ini. Seorang perempuan sedang duduk di kursi lipat tak jauh dariku. Ia mengenakan jas putih. Sibuk membolak-balikkan sebuah buku yang kukenali sebagai jurnal milikku. Kepalaku masih teramat berat. Catleya pasti membenturkan kepalaku dengan sangat keras. Tubuhku terasa mati rasa. Aku langsung menyadari kalau aku sedang mengenakan strait jacket.

“Kenapa aku mengenakan jaket pengekang ini? Kenapa aku ada di ruangan isolasi?” tanyaku kesal.

“Halo Allan, kau sudah sadar?”

“Lepaskan aku!” teriakku marah. “Lepaskan aku!!!”

“Kami harus memakaikan itu kepadamu karena sikapmu kemarin terlalu agresif dan membahayakan orang lain,” jelas perempuan yang kukenali sebagai rekan sejawatku, Suster Maryam. Hanya saja ia tak mengenakan seragam suster melainkan dokter.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Justru aku adalah korban. Kalian seharusnya mengurung Catleya. Ia yang menyerangku.” Aku mencoba membebaskan diri dari jaket pengekang yang membebat tubuhku.

“Mana Catleya. Mana perempuan itu?”

“Allan, tenanglah. Atau aku akan memberikanmu penenang.”

“Lepaskan aku. Lepaskan. Kalian tidak berhak memperlakukanku seperti ini.” Aku terus berusaha melepaskan diri sambil mengguncang-guncang tubuhku.

“Semua salah Catleya. Salah perempuan itu,” lolongku. Kulihat dua orang laki-laki berpakaian putih sudah masuk ke dalam ruangan. Suster Maryam meminta mereka menahan tubuhku. Lalu ia menyuntikan jarum ke leherku.

Duniaku terasa berputar dengan suara-suara yang ikut menjadi mengabur.

“Bagaimana keadaannya, dok?”

“Dia semakin parah. Kepribadiannya semakin bertambah. Kemarin ia menjadi seorang doker dan seorang perempuan bernama Catleya sekaligus.”

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Storial.co dan Nulisbuku.com

Kau yang Tak Pernah Berhenti Mengasihiku

Di pertengahan Januari, lindap jatuh di atap-atap. Kau sedang duduk sambil menyesap kopi hitam di teras rumah. Itu selalu menjadi kebiasaanmu sejak pensiun. Aku mendekatimu sambil mengabari kalau aku mendapat panggilan interview di sebuah perusahaan konstruksi besok hari. Katamu, kau sendiri yang akan mengantarku dengan motor bebek kesayanganmu. Motor bebek yang selalu setia mengantarku ke mana-mana sejak di bangku sekolah. Motor bebek yang selalu kau pakai untuk membeli gado-gado jika aku sedang ingin makan makanan itu. Motor bebek yang sering kau gunakan untuk mengantarku bermain ke rumah sahabatku. Aku langsung memelukmu dan mengucapkan terima kasih.

Sesuai janji, kau mengantarku mendatangi perusahaan itu. Kau bahkan menungguku sampai selesai di depan pos satpam. Kau lalu bertanya bagaimana hasilnya? Aku tak bisa menyimpan kejutan itu dan langsung mengatakan, aku diterima kerja. Kau sangat senang. Aku bisa melihat itu dari binar matamu.

Di hari pertama kerja, kau kembali mengantarku. Katamu, biar aku tidak terlambat kerja di hari pertama bekerja. Kau bahkan menawarkan untuk menjemputku karena jarak tempat kerja ke rumah memang lumayan jauh, tapi aku menolak. Kataku, aku naik angkot saja. Aku tidak ingin membuatmu lelah.

Beberapa minggu bekerja, aku mengeluhkan tentang kondisi makanan di kantin yang tidak sesuai seleraku. Dasar ya, aku memang anak perempuanmu yang sangat manja. Kau lalu berkata, akan membuatkan bekal untukku setiap hari. Aku tertawa. Kataku, sudahlah, jangan merepotkan diri. Tapi kau bersikeras. Aku adalah anakmu, bagaimana mungkin kau biarkan tanpa makan makanan yang baik? Jadilah kau membekaliku dengan makan siang yang menggugah selera setiap hari. Kesukaanku adalah sambal roa buatanmu yang sungguh nikmat.

Kau terus memanjakanku sampai aku sudah menikah dan memiliki anak. Aku selalu berpikir, kapan aku bisa membalas semua perlakuanmu kepadaku? Kau sudah menjadi papa yang sangat baik, sangat perhatian, dan tak pernah berhenti mengasihiku walau aku kerap membuat hatimu terluka.

Terima kasih papa. Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan padaku. Terima kasih.

 

 

Hari Di Mana Mama Pergi

Semalam papa dan mama bertengkar. Dan aku menyaksikan semua.

Mama sudah menjejalkan semua pakaiannya ke dalam sebuah koper. Papa berusaha menahannya tapi tangan mama terayun menampar wajah papa. Papa lalu mendorong mama ke tempat tidur. Mama membalas memukul dan menendang-nendang. Beberapa kali aku melihat papa terkena tendangan mama tapi laki-laki itu tak membalas. Dia menindih mama agar mama tak bergerak. Katanya, tolong tenanglah. Tetap saja mama berontak. Aku menangis. Papa menyuruhku masuk ke dalam kamar. Tapi aku tak bisa. Tubuhku seperti membatu.

Mama berhasil bebas dari papa. Dia bangkit dan membuka laci lemari. Emosinya semakin meluap-luap. Dikeluarkannya dua lembar kertas dari sebuah file penyimpanan lalu disobek-sobek sampai menjadi serpihan kecil. Papa membeku di tempatnya. Matanya nanar melihat kertas yang sudah hancur. Sepertinya surat penting. Aku melihat ada foto mereka berdua yang ikut sobek dengan kertas itu. Kata mama, dengan begini mereka sudah tak ada ikatan lagi. Pernikahan mereka usai.

Mama kemudian berjalan melewati papa sambil menggeret kopernya. Melewatiku yang terdiam di dekat pintu kamar mereka berdua. Mama seolah tak memedulikan aku. Melirik pun tidak. Papa berbalik mengejar. Dia mencoba menahan mama, tapi mama bersikeras sudah tak ingin tinggal. Katanya dia muak satu rumah dengan papa. Papa memohon-mohon. Tangan mama malah meraih vas bunga dan melemparnya ke dinding. Papa berhenti memohon. Aku meringkuk di dekat pintu dengan tubuh bergetar.

Sebelum pergi mama kembali menyalahkan papa. Katanya dia sudah bosan hidup dengan laki-laki yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dia sudah bosan bertahan dengan segala kekurangan. Katanya hari demi hari dia selalu bersabar. Dan tidak ada hasil. Mau sampai kapan, teriaknya. Mama juga menyebut soal ulang tahunku. Katanya, kepala rumah tangga macam apa yang tak tak bisa menyediakan uang untuk merayakan ulang tahun anaknya. Padahal aku sudah terbiasa dengan tak adanya perayaan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Kemudian mama menyebut soal hutang. Hutang yang banyak yang belum bisa papa lunasi. Banyak lagi. Dan banyak lagi. Aku menutup telinga dan mataku berharap ini hanya mimpi buruk.

Sayangnya ini bukan mimpi. Aku dan papa hanya bisa menatap langkah mama meninggalkan rumah dan hilang ditelan gelap malam. Besok para tetangga pasti akan bertanya. Ada apa semalam?

Bukan kali ini papa dan mama bertengkar. Sudah beberapa kali sejak aku masih kecil. Tidak setiap waktu memang, tapi pasti seperti ini. Penuh teriakan dan makian. Selalu mama yang akan mengamuk dan papa yang berusaha menenangkan.

Kami sudah tiga kali pindah rumah kontrakan, dan selalu saja ada dalam suatu masa terjadi pertengkaran. Setiap kali bertengkar mama selalu mengancam akan meninggalkan papa, tapi tak pernah benar-benar pergi. Papa selalu memohon-mohon agar mama memikirkan aku. Memohon agar mama mau bertahan. Lalu esok harinya semua akan kembali normal. Seolah luapan amarah semalam padam begitu saja. Mama dan papa akan menjalani hari-hari lagi seperti sedia kala.

Aku tak mengerti dengan orang dewasa. Mereka aneh. Di hari biasa, mereka tampak saling sayang. Saling akur. Aku sering melihat papa mencium mama. Atau keduanya saling berpelukan mesra. Lalu di hari-hari tertentu—seperti semalam—mereka akan saling berteriak. Meraung-raung seperti seekor singa kelaparan. Pemicunya hanya karena uang. Ya, aku bisa mengerti walau umurku masih teramat muda. Apa yang mama keluhkan setiap kali bertengkar pasti menyangkut uang. Soal kebutuhan hidup, itu pasti tentang uang. Beli air dan makan itu untuk hidup, kan? Soal ulang tahun, itu karena  butuh uang. Soal hutang, itu juga pasti butuh uang. Walau aku tak mengerti hutang itu apa. Inti dari semuanya adalah uang.

Apa semua orang dewasa seperti itu? Apakah mereka bersatu hanya karena terpaksa? Hanya karena pura-pura? Apa uanglah yang mampu menyatukan mereka?

Saat bangun tadi mama tak ada. Mama tak kembali. Permohonan papa sudah tak mempan lagi. Padahal kemarin terlihat seperti hari yang normal. Mama masih melakukan kegiatannya seperti biasa. Bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan segala keperluanku dan papa sebelum berangkat sekolah dan kerja. Mama juga masih menyambutku sepulang sekolah. Dia menemaniku makan siang, kemudian menyuruhku tidur. Benar-benar seperti hari-hari biasa.

Sore harinya mama juga masih tetap mama yang sama. Membersihkan rumah kemudian menyiapkan makan malam. Keadaan berubah ketika papa pulang. Papa memberikannya sebuah kertas. Entah isinya apa. Sikap mama mendadak berubah total setelah melihat isi kertas itu. Lalu pertengkaran itu terjadi. Lebih hebat dari pertengkaran yang sudah-sudah.

Papa tak pergi kerja hari ini. Saat aku melongok ke dalam kamar, dia masih berbaring di tempat tidur. Aku juga tak pergi ke sekolah. Padahal seragam merah putihku sudah disediakan mama kemarin. Mobil jemputan yang datang terpaksa berlalu begitu saja karena aku ataupun papa tak keluar rumah.

Menjelang siang papa baru keluar dari kamar. Matanya sembap. Garis hitam begitu tebal di bawah matanya. Aku tak pernah melihat papa yang seperti ini. Penuh dengan kesedihan.

“Sudah makan?” tanyanya padaku yang duduk di depan televisi. Aku menggeleng. Tadi aku hanya mengganjal perut dengan sisa keripik kentang di kulkas.

“Papa gorengin telur, ya?” aku mengangguk.

Aku dan papa makan dalam diam di meja makan. Papa tak mengungkit soal kenapa aku tak ke sekolah. Pun sebaliknya.

“Mama sudah benar-benar pergi ya, Pa?” tanyaku dengan nada ragu. Papa tetap diam. Sebuah senyum mengembang dari wajahnya. Senyum yang dipaksakan.

“Mama pergi karena Papa gak punya uang, ya?” tanyaku lagi. Senyum di wajah papa mendadak sirna.

“Maafkan Papa dan Mama kalo sudah bikin kamu susah ya, Nak.”

“Jadi Mama benar-benar pergi karena uang ya, Pa. Mama mau uang berapa? Aku punya.” Aku langsung bangkit dan berlari masuk ke dalam kamar. Di atas lemari, aku meraih celengan ayam berwarna hijau. Celengan yang dulu dibelikan papa dan mama di ulang tahunku yang pertama.

“Aku punya uang, Pa,” kataku menyodorkan celengan hijau itu. Celengan itu penuh. Isinya uang sisa jajan dan recehan yang kusimpan untuk membeli sepeda nanti.

“Kita cari Mama trus kasih uang ini biar Mama pulang, Pa,” rengekku. “Kita kasih semua yang di dalamnya. Biar Mama mau ngumpul lagi sama kita. Aku rela kok, Pa. Rela. Nanti kalo Papa udah uang lagi baru Papa ganti isi celengan aku. Asalkan Mama pulang, Pa.”

Mata papa berkaca. Satu persatu bulir air jatuh dari kelopaknya.

“Kamu simpan aja celengan kamu, ya.” Papa menyodorkan kembali celengan ke arahku.

“Kenapa? Memangnya Mama mau uang berapa?”

“Mama butuh waktu, Nak. Nanti kalo semua sudah reda, Papa akan membujuk Mama pulang.”

“Tapi kapan Mama pulang, Pa?” tanyaku yang tak mengerti.

“Nanti Sayang, nanti.” Papa menarikku ke dalam peluknya. Tangisnya pecah. Pun aku.

Aku tak mengerti kenapa mama harus pergi. Kenapa tak tinggal seperti hari-hari biasanya. Jika mama menginginkan uang. Aku punya uang. Walau memang tak seberapa.

“Papa ke kamar dulu,” kata papa melepas pelukannya. “Kamu kalo mau nonton, nonton aja. Jangan dulu ke mana-mana. Semoga besok Mama pulang, ya.”

Aku tak melihat papa sampai besok pagi. Dan mama juga tak kembali seperti kata papa.

Tak pernah kembali lagi.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Kakek Benhur dan Sebuah Helm yang Retak

Sekelompok anak-anak sekolah yang sedang nongkrong di warung Mak Sarinauli menjadi korban Kakek Benhur. Suara mantan tentara itu menggelegar seantero kompleks.

“Jam pelajaran sekolah kalian malah keluyuran di sini. Mau jadi apa kalian nanti?” bentak Kakek Benhur. “Ayo bubar semua. Bubar!”

Kelompok remaja yang tadinya asyik menikmati gorengan sambil bermain smartphone masing-masing langsung kalang kabut. Cepat-cepat mereka menstarter motor yang terparkir di samping warung.

“Sudah bolos, kalian juga nggak pake helm. Kalian mau cari celaka?!” Kakek Benhur mengangkat tinggi-tinggi helm tuanya. Anak-anak sekolah itu langsung kabur tanpa babibu.

“Jangan kembali lagi ke sini saat jam sekolah. Dan jangan pernah lupa pakai helm. Dasar anak-anak nakal.” Kakek Benhur berjalan tertatih menuju dego-dego[1] di depan rumahnya. Ia meletakkan helm tua yang setia dipegangnya dan duduk diam di sana. Matanya seawas elang kepala botak mengamati jalanan.

Sudah menjadi kebiasaan Kakek Benhur, ia akan duduk di dego-dego lalu memarahi setiap pengendara motor yang lalu lalang di jalan tanpa mengenakan helm. Sambil marah-marah, ia akan mengacung-acungkan helm tuanya. Kebiasaan ini sudah terjadi sekian tahun, makanya para tetangga sudah maklum.

Sehari sejak kedatangan Kakek Benhur ke kompleks ini, banyak tetangga yang terkaget-kaget. Khususnya para pengendara motor. Teriakannya yang lantang dan suka marah-marah membuatnya hampir saja dimusuhi semua orang. Yang kemudian mengubah itu adalah saat Andika, anak Pak RT terjatuh dari motor yang dikendarainya tepat di depan rumah Kakek Benhur.

Kala itu sedang hujan deras, semua orang memilih berdiam di dalam rumah. Hanya Kakek Benhur yang setia duduk di dego-dego sambil memegang payung. Teriakan Kakek Benhur yang lantang membuat banyak orang keluar rumah. Kakek Benhur terlihat sangat panik dan cemas. Ia bahkan tak berani memegang tubuh Andika. Suami Mak Sarinauli dan Pak Husni yang mengangkat tubuh Andika masuk ke dalam mobil. Saat Andika akan dibawa ke rumah sakit, Kakek Benhur memaksa ikut.  Untung saja remaja tanggung itu hanya mengalami gegar otak ringan.

Sejak kejadian itu, tak ada lagi tetangga yang mempermasalahkan sikap Kakek Benhur. Bahkan banyak yang sudah terbiasa memakai helm ke mana-mana, walau jaraknya hanya dekat. Karena Kakek Benhur selalu mendengungkan soal kegunaan helm kepada setiap pengendara yang tak memakai helm.

Jika ada yang penasaran tentang Kakek Benhur, pastilah semua akan bertanya tentang helm tua yang selalu dibawanya. Warnanya hitam. Sedikit retak di sisi kirinya, mungkin akibat terjatuh. Lalu ada sebuah goresan inisial yang cukup besar bertuliskan EP namun hampir pudar. Banyak yang ingin tahu cerita soal helm tersebut. Helm itu pasti memiliki kisah yang membuat Kakek Benhur sampai bersikap seperti sekarang ini.

Kakek Benhur tinggal bersama istrinya. Ibu Dahlia namanya. Mereka tidak memiliki anak, setidaknya begitu yang diketahui para tetangga. Dulu sewaktu Kakek Benhur pindah ia hanya datang bersama Ibu Dahlia saja, tidak terlihat membawa seorang anak.

Berbeda dengan Kakek Benhur yang suka meneriaki para pengendara bermotor, Ibu Dahlia adalah orang yang amat lemah lembut. Ia kerap membawakan roti panggang buatannya sendiri kepada para tetangga yang kena semprot Kakek Benhur sambil meminta maaf.

Raungan motor melaju di jalan di depan rumah Kakek Benhur. Ada yang memakai helm, ada yang tidak. Seharusnya Kakek Benhur sudah berteriak-teriak memarahi mereka yang tidak memakai helm sambil mengacung-acungkan helm tuanya. Namun hari ini tidak terdengar suara lantang milik si kakek.

Sudah dua hari ini dego-dego itu sepi. Biasanya sejak pagi dego-dego itu sudah diduduki pemiliknya. Ia akan menyesap kopi hitam ditemani roti panggang buatan istrinya. Selain itu, helm hitam kesayangannya setia menemaninya.

“Ke mana Kakek Benhur?” begitu kasak kusuk yang terdengar di warung Mak Sarinauli.

“Jangan-jangan beliau sakit ya?” timpal yang lain.

“Mak, apa kau tahu Kakek Benhur ke mana?” tanya Pak Husni yang juga ikut memesan kopi.

“Mana kutahu. Biasanya Ibu Dahlia sudah kelihatan menyapu halaman. Tapi sejak kemarin aku pun tak melihat.”

“Bagaimana kalau kita menjenguk ke rumahnya?” ajak Pak Husni.

“Setuju,” kata yang lain.

“Aku akan membuatkan makanan ringan buat kita bawa nanti,” usul Mak Sarinauli.

Rumah milik Kakek Benhur sangat asri. Halamannya ditumbuhi pohon kamboja dan mangga. Rumput jalar tumbuh rapi dan terawat. Pot-pot berisi bunga anggrek tergantung cantik di teras depan.

“Permisi.” Pak Husni yang lebih dulu membuka suara. “Permisi,” panggilnya lagi.

“Sebentar,” jawab suara dari dalam. Derap langkahnya tergopoh membukakan pintu rumah. Wajah Ibu Dahlia menyembul dari baliknya.

“Ada tamu rupanya, mari masuk semua,” ajak Ibu Dahlia sopan.

Pak Husni, Mak Sarinauli dan beberapa orang lain duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu. Bau roti panggang menguar memenuhi ruangan bercampur bau ikan woku.

“Ada perlu apa rame-rame begini?” tanya Ibu Dahlia ikut duduk di antara mereka.

“Begini, Bu, kami ingin tahu keadaan Kakek Benhur.” Pak Husni menjadi juru bicara.

“Oh itu.” Ibu Dahlia mengulas senyum. “Beliau sedikit terganggu kesehatannya. Sekarang sedang berbaring di kamar.”

“Kakek Benhur sakit apa, Bu?” tanya Mak Sarinauli cemas.

“Hanya masuk angin saja, kok.”

“Syukurlah,” kata yang lain lega.

“Mumpung semua sedang ada di sini, saya mau minta maaf atas sikap suami saya. Tolong jangan diambil hati ya.”

“Tidak kok, Bu. Kami bisa memaklumi sikap Kakek Benhur. Beliau begitu karena niat yang baik,” timpal Pak Husni.

“Dia sebenarnya bersikap keras terhadap dirinya sendiri. Tapi aku merasa tidak enak kepada para tetangga karena dia terlihat begitu pemarah.”

“Kenapa suaminya bisa galak kali begitu, Bu?” tanya Mak Sarinauli dengan logat bataknya yang kental.

“Aduh, maaf ya, Mak. Dia begitu sejak anak kami meninggal.” Air muka Ibu Dahlia mendadak berubah muram.

Mak Sarinauli dan yang lain terkejut mendengarnya. Selama ini mereka selalu penasaran apakah Kakek Benhur memiliki anak atau tidak.

“Meninggal karena apa, Bu?” tanya Mak Sarinauli dengan hati-hati.

“Karena…”

Lalu mengalirlah kisah yang selama ini menjadi asal muasal sikap Kakek Benhur.

Kejadiannya terjadi lima belas tahun yang lalu, saat Kakek Benhur baru menjabat sebagai Letnan Satu di kesatuan Brigif Linud 17. Sepulang kerja, Kakek Benhur mengajak anak semata wayangnya yang baru berumur sembilan tahun berkeliling naik motor. Elang Pramudya nama anak laki-lakinya itu.

“Jangan lupa pakaikan helm buat Elang, Pak,” kata Ibu Dahlia sebelum mereka berangkat.

“Hanya keliling kompleks saja, kok, Bu.”

“Tetap saja harus dipakaikan dong, Pak.”

Sayangnya Kakek Benhur tak mengindahkan. Ia dan Elang pergi tanpa memakai helm. Di tengah perjalanan, sebuah mobil melaju cukup kencang di jalan yang sepi. Kakek Benhur refleks membelokkan motornya agar menghindari tabrakan. Namun itu justru membuatnya harus menabrak tiang listrik. Elang terpental. Jatuh berdebum di aspal. Kakek Benhur histeris. Pengemudi mobil keluar dengan jalan yang sempoyongan. Ia berkali-kali meminta maaf kepada Kakek Benhur yang sedang memeluk tubuh anaknya. Bau alkohol menguar dari mulut pengemudi yang masih terbilang muda itu.

Kakek Benhur selalu menyesali kejadian itu sampai bertahun-tahun lamanya. Sampai sekarang.

“Sampaikan salam kami kepada Kakek Benhur ya, Bu. Semoga beliau cepat sembuh,” kata Pak Husni saat ia dan lainnya hendak pamitan.

“Iya, akan saya sampaikan.”

“Katakan juga, kami rindu teriakan Kakek Benhur yang lantang. Kalo beliau belum sembuh nanti siapa yang akan marah-marah sama pengendara motor yang nggak pakai helm. Apalagi anak saya tuh, bebal kali dia. Butuh ditegur Kakek Benhur dia itu,” timpal Mak Sarinauli membuat semuanya tertawa.

“Terima kasih atas kedatangan semuanya.” Ibu Dahlia mengantar para tamunya sampai ke halaman rumah.

Dari dalam rumah, sepasang mata mengamati pergerakan di halaman. Matanya penuh haru. Sejak tadi ia sempat mencuri dengar percakapan di ruang tamu.

“Semoga tidak ada lagi yang bernasib sama seperti kamu, Nak,” katanya sambil mengelus lembut helm tua yang selalu dipegangnya.

[1] Bale kayu

*) Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com